Pembelajaran siswa tidak selalu harus dilakukan di dalam ruang kelas. Hal tersebut terlihat dalam kegiatan pembelajaran mata pelajaran Nahwu yang dilaksanakan di serambi masjid MA Pembangunan. Kegiatan ini dipandu langsung oleh Ibu Wihda Helroza Fitri, yang memilih suasana luar kelas untuk menciptakan pembelajaran yang lebih nyaman dan bermakna.
Pada kesempatan tersebut, Ibu Wihda menyampaikan materi Asmaul Khomsah, salah satu pembahasan penting dalam ilmu Nahwu. Beliau menjelaskan secara rinci pengertian Asmaul Khomsah, macam-macamnya, serta perubahan i‘rab yang terjadi pada isim tersebut. Penjelasan disampaikan dengan metode dialogis sehingga siswa dapat bertanya langsung apabila ada materi yang belum dipahami.
Setelah penyampaian materi, siswa MA Pembangunan diberikan tugas untuk mencari contoh Asmaul Khomsah dari kitab, buku pelajaran, maupun kalimat yang mereka susun sendiri. Tidak hanya itu, siswa juga diminta untuk mempraktikkan penggunaan Asmaul Khomsah dalam kalimat bahasa Arab secara lisan di hadapan teman-temannya.
Pembelajaran yang dilaksanakan di serambi masjid ini memberikan suasana baru bagi siswa. Mereka terlihat lebih santai, fokus, dan aktif mengikuti pembelajaran. Banyak siswa mengaku lebih menikmati proses belajar karena tidak terikat suasana kelas yang formal. Hal ini berdampak pada pemahaman materi yang lebih cepat dibandingkan pembelajaran di dalam kelas.
Ibu Wihda Helroza Fitri menyampaikan bahwa pembelajaran di luar kelas dapat menjadi alternatif metode belajar agar siswa tidak mudah jenuh. Dengan suasana yang berbeda, siswa menjadi lebih antusias dan berani mempraktikkan materi yang telah dipelajari.
Melalui pembelajaran Nahwu di luar kelas ini, diharapkan siswa tidak hanya memahami teori Asmaul Khomsah, tetapi juga mampu menerapkannya secara tepat dalam penggunaan bahasa Arab sehari-hari. Kegiatan ini membuktikan bahwa belajar bisa dilakukan di mana saja, termasuk di serambi masjid, tanpa mengurangi kualitas pembelajaran. (Rfq)